artikel

Anak Merupakan Nikmat dan Amanah

0

Anak merupakan nikmat dan amanah

Nikmat Allah tidaklah mampu untuk kita hitung dan kita hingga namun yang harus selalu kita ingat bahwasanya berbagai macam nikmat dan anugrah dari Allah dia juga merupakan bagian dari cobaan kehidupan ini, Allah ta’ala berfirman :


. . . وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ١٦٨


“. . . .dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)” . (Q.S Al-A’raf : 168)
Di dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada kita bahwa kebaikan berupa nikmat dia juga merupakan bagian dari cobaan-Nya. Bahkan di dalam ayat yang lain Allah lebih menegaskan lagi bahwasanya anak dan keterunan kita ini dia merupakan bagian dari cobaan kehidupan setiap anak cucu adam, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman


وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ


“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah bagimu”. (Al Anfaal: 28)
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan di dalam tafsirnya :


أَيْ: اخْتِبَارٌ وَامْتِحَانُ مِنْهُ لَكُمْ؛ إِذْ أَعْطَاكُمُوهَا لِيَعْلَمَ أَتَشْكُرُونَهُ عَلَيْهَا وَتُطِيعُونَهُ فِيهَا، أَوْ تَشْتَغِلُونَ بِهَا عَنْهُ، وَتَعْتَاضُونَ بِهَا مِنْهُ؟


“Yaitu menjadi cobaan dan ujian dari Allah atas kalian. Allah menganugerahkannya kepada kalian untuk menguji apakah kalian akan mensyukuri nikmat tersebut dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya, atau malah nikmat tersebut menyibukkan diri kalian dari ketaatan kepada-Nya dan memalingkan kalian dari Allah subhanahu wata’ala?” (Tafsir ibn katsir : 4/42)
Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita tidak boleh menyepelekan masalah pendidikan anak. Karena anak kita, putra-putri kita dia merupakan bagaian cobaan ini dan kita telah diperintahkan Allah untuk menjaga diri kita dan keluarga kita agar tidak terjatuh kepada kemurkaan dan azab-Nya. Allah ta’ala berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ٦


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S At-Tahrim : 6)


Sahabat Ali bin abi thalib radhiyallahu ‘anhu dalam menafsirkan firman Allah ini قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ‘peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka’ beliau mengatakan :


عَلِّمُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ خَيْرًا


“Ajarilah diri kalian dan keluarga kalian kebaikan” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim)
Dan juga Rasulullah menegaskan mengenai pertanggaung jawaban orang tua nantinya dihadapan Allah dengan keluarganya sebagaimana sabdanya :


كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam riwayat lain yang diriwayatkan secara marfu’ oleh Al-Imam An-nasai dan ibnu hibban disebutkan :


إِنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَى يَسْأَلَ الرَجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ


“Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada setiap pemimpin atas apa yang dipimpinnya. Apakah dia menjaganya atau melalaikannya, sampai meminta pertanggung jawaban terhadap seorang atas anggota keluarganya.”
Oleh karenya jikalau seorang ayah lalai mendidik anaknya, tidak pernah memiliki waktu luang untuk anak-anaknya apalagi mau ikut memberikan pendidikan yang layak bagi merka, maka nanti bapak yang sepeti ini akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah.
Jikalau seorang ibu menyia-nyiakan kewajiban mendidik anaknya hanya karena alasan-alasan yang bukan lah sesuatu yang amat darurat, nantinya dia akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah atas semua perbuatannya. Semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya!
Kita semua saat ini sedang berada pada kesempatan emas, kesempatan emas karena masih memiliki waktu dan kesempatan untuk mendidik putra-putri kita menjadi orang-orang yang shaleh dan pribadi-pribadi yang baik, percayalah wahai para orang tua jika kesempatan ini tidak kita ambil, maka syaithan dan bala tentaranya lah yang akan terjun menyesatkan anak keturunan kita, karena sejak awal dilaknat nya iblis dia telah bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan anak keturunan adam dan menjaukan mereka dari jalan-jalan keshalehan
Allahu berfirman :


قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا٦٢ قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا٦٣ وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا٦٤

  1. Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.
  2. Tuhan berfirman: “Pergilah, Barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, Maka Sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.
  3. dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (Q.S Al-Isra : 62-64)
    Ibnul Qayyim menyebutkan : ”Maka, Barangsiapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang -bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begiti saja, berarti dia telah melakukan kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya. Para orang tua itu melalaikan mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak sanggup menjadi orang yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak dapat memberi manfaat kepada orang tua mereka, ada sebgaian orangtua yang mencela anaknya karena telah bersikap durhaka, sang anak mebantah ‘wahai bapakku, engkau sendiri telah mendurhakaiku di masa kecil, maka sekarena aku mendurhakaimu setelah engaku tuam sewaktu aku kecil engkau telah melalaikanku, mka sekakarang aku pun melalaikanmu di masa tuamu.” (Ahkamul maulud)
    Dan ini adalah realita wahai para orang tua, demi Allah penulis pernah melihat realita demikian yang telah terjadi, seorang anak yang ingin mendurhakai orang tuanya karena dulu dia merasa telah dilalaikan dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya, jangan sampai kejadian demikian juga terjadi di rumah tangga kita, terjadi pada anak-anak kita, maka sebelum pilu pahit penyesalan harus ditelan, berjuanglah wahai para orang tua, berjuanglah untuk memberikan pendidikan terbaik bagi buah hati kita, yakinlah kesulitan dan jerih payah Anda akan manis jika sudah tiba pada waktunya, semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya kepada seluruh rumah tangga kaumu muslimin.

PENULIS : Salman, Lc

NIKMAT ALLAH BERUPA ANAK KETURUNAN

Previous article

Ustadz Abdul Qodir – Surah Al Haqqah – Juz 29

Next article

You may also like

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

More in artikel