artikel

Cara Menghitung Zakat Harta

0

Cara Menghitung Zakat Harta

Pertama kita perlu mengetahui terlebih dahulu harta apa saja yang masuk ke dalam perhitungan zakat di dalamnya

Diantaranya ada 7 harta yang termasuk  dalam perhitungan zakat

  1. Emas
  2. Perak
  3. Uang (berdasarkan qiyas dari emas dan perak)
  4. Barang perdagangan
  5. Hewan ternak
  6. Hasil pertanian
  7. Harta karun

Kedua, siapakah orang yang wajib menunaikan zakat, ada 4 syarat yang harus dipenuhi :

  1. Dia muslim.
  2. Merdeka (bukan seorang budak).
  3. Berakal (tidak gila) dan sudah baligh.
  4. Hartanya sudah sampai “nishab” (ukuran atau batas terendah harta zakat)

Berapa batas nishab dari emas, perak dan uang ?

  1. Emas (murni): 85 gram +-  
  2. Perak (murni): 595 gram  +-
  3. Uang : Jumlah nishab emas (85 gr) atau jumlah nishab perak (595 gr) di rupiahkan, kemudian dilihat yang mana yang lebih rendah nilainya, apakah nominal uang nishab emas yang di rupiahkan atau perak, maka pilihlah nilai terendah dari keduanya demi mempermudah para fakir miskin agar mereka sering dan mudah mendapatkan bantuan, walaupun ada perbeadan pendapat dalam masalah ini.

Contoh:

nishab emas 85gr : harga emas saat ini 1 gr adalah Rp. 750.000 X 85 = Rp. 63,240.000

nishab perak 595gr : harga perak saat ini 1 gr adalah Rp. 13.000 X 595 = Rp. 7.735.000

maka nilai yang terendah adalah nishab perak yang dirupiahkan yaitu Rp. 7.735.000 sehingga jikalau seseorang memiliki uang sebesar Rp. 7.800.000 dia termasuk orang yang sudah mencapai nishab zakat

jikalau harta nya sudah mencapai nishab lantas bagaimana ?

sebelum menghitung pengeluaran zakatnya perhatikan dulu berikut :

  1. Emas dan perak yang dikeluarkan zakatnya adalah emas dan perak murni (24 karat) bukan emas yang kurang dari 24 karat seperti emas 18 karat, bukan pula emas atau perak imitasi, bukan emas  kw-kw an, apalagi “mas-mas jawa”.
  2. Harta nya itu diluar kebutuhan yang harus dipenuhinya, contoh: penghasilannya 10 juta rupiah per bulan (sudah masuk nishab nominal perak), namun setelah dipakai buat membayar kebutuhan bulanannya dan lain-lain seperti bayar uang belanja bulanan, kontrakan, sekolah anak, beli kouta, uang bensin,dan lain-lain. sisa uangnya tinggal 1 juta rupiah saja, maka tetap saja dia tidak mencapai nishab, karena nishabnya harus di hitung dari uang sImpanan diluar kebutuhan yang harus dipenuhi.
  3. Harta zakat yang telah mencapai nishab tersebut telah berlalu kepemilikannya selama satu tahun (dengan kalender hijriah) contoh :

Kasus 1

Si Fulan punya uang 100 juta pada tanggal 1 muharram 1440 H, uang tersebut diluar dari gaji pokok bulanannya yang mencukupi kebutuhan bulanan, berarti si fulan sudah sampai nishab, berlalu waktu satu tahun uang tersebut tidak berkurang (masih berada di atas nishab), sehingga pada tanggal 1 muharram 1441 H si fulan sudah wajib mengeluarkan zakat dari uangnya,

Kasus 2

Tanggal 1 muharram 1440 H si alan punya uang 100 juta setelah berlalu 5 bulan disebabkan beberapa hal yang mendesak, uang 100 juta si alan berkurang sehingga tersisa lah 3 juta rupiah saja, maka dalam keadaan seperti ini, hilang lah hitungan haul 1 muharram tadi, disebabkan uang nya yang tidak lagi mencapai nishab, apabilah tiba setahun yaitu tanggal 1 muharram 1441 H maka si alan tidak lagi wajib membayar zakat karena haul nya telah batal dan uang di tangannya sudah tidak mencapai nishab lagi.

Kasus 3

Si fulanah punya uang 100 juta rupiah tanggal 1 muharram 1440 H baru berlalu 2 bulan uang nya si fulanah habis disebabkan dipakai sevis mobil yang rusak tertimpa durian tetangga. Maka tersisalah 2  juta rupiah saja dari 100 juta tadi, pada saat ini batal lah hitungan haul 1 muharram 1440 H tadi, akan tetapi pada tanggal  1 Rajab 1440 H, si Fulanah mendapatlkan rezeki bak durian runtuh, dagangannya untung bersih 150 juta rupiah, 50 juta di pakainya buat tambah modal dan kebutuhan bulanannya, sisanya di simpan si fulanah 100 juta hingga berlalu satu tahun maka pada tanggal 1 Rajab 1441 H si fulanah wajib menunaikan zakat nya, karena sudah berlalu satu haul.

Sampai di sini insyaAllah bisa dipahami bagaimana hitungan haul dan nishab.

Sekarang bagaimana cara mengeluarkan zakatnya?

Rumus menghitung dan cara mengeluarkannya

  1. zakat emas

nishab zakat emas adalah : 85 gram , jumlah yang wajib di tunaikan adalah : 2,5%. prakteknya sebagai berikut :

Contoh : Bu cinta memiliki emas pemberian mertua seberat 90 gram telah di simpan bucin selama setahun (menurut kalender hijriah sejak kepemilikannya) maka bucin wajib mengeluar zakat 2,5 % dari emasnya (2,5% X 90 Gram ) yaitu : 2,250 gram

2,250 gram emas ini bisa bucin beli sendiri di toko emas kemudian diberikan langsung kepada orang fakir yang berhak menerima zakat (dalam bentuk emas) atau bucin cukup memberikannya dalam bentuk uang saja seharga emas murni 2,250 gram dengan fluktasi harga emas pada saat akan dikeluarkan zakatnya.

  • zakat perak

Nishab nya adalah : 595 gram, jumlah yang wajib di tunaikan adalah 2,5% .

Prakteknya sebagai berikut :

Contoh : Bu Sukma membeli perak 600 gram pada tanggal 1 Rajab 1440 H lalu di simpan BuSuk selama satu tahun penuh, sehingga pada tanggal 1 Rajab 1441 H BuSuk wajib mengeluarkan zakat perak nya berupa 2,5% dari perak nya yaitu : 15gr perak

Cara mengeluarkan nya sama seperti sebelumnya sebagaimana mengeluarkan zakat emas, bisa BuSuk beli perak 15 gr lalu diberikan kepada fakir yang berhak menerima zakat, atau BuSuk berikan uang kepada fakir miskin senilai harga 15 gr perak, jikalau harga perak per-gram nya pada saat BuSuk akan mengeluarkan zakat adalah Rp. 13.000 , maka 15 X 13.000 Rupiah adalah : 195.000, BuSuk cukup berikan uang segitu.

  • Zakat Uang simpanan

Nishabnya seperti nishab emas atau perak, yang di keluarkan pun juga sama sebesar 2,5% dari uang simpanan.

Prakteknya sebagai berikut :

Pak Pong memiliki uang 100 juta pada tanggal 1 shafar 1440 H, maka berdasarkan nishab emas pada saat pak pong memiliki uang tersebut 85 gram adalah Rp. 63,240.000, oleh karenanya pak pong sudah di anggap mencapai nishab maka dimulai lah perhitungan haulnya, setelah digunakan untuk keperluan dan lain-lain selama setahun penuh, uang tersebut masih tersisa sebesar 65 juta pada tanggal 1 shafar 1441 H (masih berada dalam nishab emas), maka pak pong wajib mengeluarkan 2,5% dari total uang 65 juta nya yang saat ini masih berada di tangannya, Rp.65.000.000 x 2,5% = Rp. 1.625.000, segitulah jumlah uang yang harus di tunaikan pak pong kepada fakir miskin.

Jikalau ingin menggunakan nishab perak maka praktek perhitunganya tetap sama sebagaimana di atas, hanya nishab nya saja yang berbeda

bolehkah menggabungkan antara emas dan uang atau perak dan uang?

Dibolehkan menggabungkan uang dengan salah satu dari jenis harta zakat yaitu emas atau perak, karena sebagaimana sebelumnya disebutkan bahwasanya kewajiban zakat uang merupakan qiyas (analogi syar’i) ke emas dan perak, sehingga boleh di gabungkan antara dua jenis ini, akan tetapi antara emas dengan perak nishab nya tidak dapat di gabungkan satu sama lain, karena dia merupakan jenis yang berbeda yang mana tidak dapat dianalogikan satu sama lain.

Adapun praktek nya sebagai berikut :

Kang Mus memilki emas 50 gram dan juga uang simpanan sebesar Rp.30.000.000 , pada tanggal 1 muharram 1440 H, tentunya emas nya kang mus belum sampai nishab (nishab emas : 85 gr), namun apabila ditambahkan dengan uang simpanan kang mus sebesar Rp.30.000.000  dengan jumlah emasnya kang mus, maka kang mus dapat dianggap telah mencapai nishab

Sebab harga emas pada saat tersebut (1 muharram 1440 H)  per-gram nya adalah Rp. 750.000,  jikalau kita hitung nominal uang simpanannya kang mus sebesar 30 juta maka uang tersebut senilai dengan 40 gram emas, walhasil kang mus dianggap telah memiliki total emas 90 gram (sebab ditambahkan dengan nilai uang simpanan) sehingga kang mus pun dianggap telah mencapai nishab, berdasarkan penjumlahan nilai emas dan uangnya kang mus.

  • Zakat barang dagangan 

Zakat barang dagangan konsep dasarnya mirip dengan zakat uang simpangan (karena dia juga merupakan qiyas dari emas dan perak), hanya saja yang menjadi perhitungan barang zakatnya adalah barang yang hendak dijual atau didagangkan

Beserta keuntungan ketika tutup buku akhir tahun. Adapun contoh penerapannya sebagai berikut :

Mas Joko seorang pedagag mebel pada tanggal 1 muharram 1440 H mas Joko membeli barang-barang mebel yang beliau niatkan untuk dijual di toko mebel nya senilai 100 juta rupiah, menurut nilai nishab emas ataupun perak mas Joko sudah mencapai nishab berdasarkan fluktasi harga emas atau perak pada saat tersebut, berlalu satu tahun penuh berdasarkan kalender hijriah, maka ketika tutup buku berdasarkan modal, keuntungan, serta hutang-piutang dapat disimpulkan sebagai berikut :

Sisa barang (mebel) senilai = Rp.30.000.000

Keuntungan bersih di tangan = 80.000.000

Hutang pihak lain kepada toko = Rp.50.000.00

Hutang toko (biaya kontrakan ruko,listrik,gaji pegawai dll) = 40.000.000

Rumus perhitungannya

Nilai sisa barang + keuntungan + Hutang pihak lain – Hutang toko X 2,5% = Jumlah zakat yang harus ditunaikan

30.000.000 + 80.000.000 + 50.000.000 – 40.000.000 X 2,5% = 3.000.000  (jumlah zakatnya)

Semoga yang sedikit ini bisa dipahami dan bermanfaat, untuk pembahasan mengenai cara perhitungan zakat lainnya yang mana pembahasannya sedikit lebih banyak lagi insyaAllah akan dilanjutkan di lain waktu.

Penulis: Handriadi tenri Salman, Lc

Ustadz Abu Salma,Lc – Untaian Hikmah Dari Kisah Nabi Yusuf – Bagian 1

Previous article

Ustadz Abdul Qodir – Ayat Kursi

Next article

You may also like

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

More in artikel