artikel

Mendidik Anak Tanggung Jawab Siapa?

1
Hand writing on whiteboard surface - office, business and education concept

Mendidik anak tanggung jawab siapa?

Anak merupakan nikmat dan amanah bagi kedua orang tuanya, oleh karenanya orang yang paling bertanggung jawab terhadap pendidikan seorang anak tentunya adalah kedua orang tuanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka setiap orang tua wajib menamkan di dalam dirinya bahwasanya tanggung jawab mendidik anak terletak di pundak kedua orang tua, bukan hanya ibunya saja atau hanya ayahnya saja tapi kedua orang tua secara bersamaan, sebab pendidikan anak membutuhkan kerjasama yang erat antara seorang suami dan istri. Seorang ibu tidak sekedar mempersilahkan suaminya membantunya dalam mendidik anak, tapi juga harus mendorong sang suami untuk menjalankan peran ini dan menyiapkan segala hal untuk mempermudahnya

Sang ibu juga tidak sepatutnya mengandalkan suami untuk memberikan ancaman ataupun hukuman bagi anaknya, sehingga sosok ayah akan menjadi seorang polisi jahat di mata sang anak, lambat laun semakin terurai ikatan ayah dan anak sehingga dapat terjadi pergesekan keinginan antar keduanya.


Sebagian orang tua mengira bahwa mendidik adalah dengan memperlihatkan perlakuan kasar, keras, dan cemberut. Sang ayah pun selalu mengerutkan dahi ketika di rumah, menjadi seorang petugas membalas dan meneror, anak-anak pun menjauhinya. Mereka bersembunyi di sudut-sudut rumah karena takut nanti dimarahi oleh sang ayah. Rasa takut ini lebih mendominasi dibandingkan rasa hormat dan rasa malu. Padahal cara seperti ini menyalahi aturan-aturan mendidik dan dilarang oleh Islam.

Rumah tangga harus dipenuhi dengan kasih sayang dan kelemah-lembutan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menyebutkan :

إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهُمُ الرِّفْقَ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu keluarga, Dia akan memasukkan kelembutan di hati mereka” (H.R Ahmad)

Ibnu Khaldun menjelaskan:

وَمَنْ كَانَ مُرَباَّهُ بِالعَسْفِ وَالقَهْرِ مِنَ المُتَعَلِّمِيْنَ أَوْ المَمَالِيْكِ أَوْ الخَدَمِ، سَطَا بِهِ القَهْرُ وَضَيْقٌ عَلىَ النَفْسِ فِي انْبِسَاطِهَا، وَذَهَبَ بِنَشَاطِهَا وَدَعَاهُ إِلَى الكَسْلِ وَحَمِلَ عَلَى الكَذْبِ وَالخَبَثِ، وَهُوَ التَظَاهُرُ بِغَيْرِ مَا فِي ضَمِيْرِهِ، خَوْفاً مِنْ انْبِسَاطِ الأَيْدِي بِالقَهْرِ عَلَيْهِ، وَعَلَّمَهُ المَكْرَ وَالخَدِيْعَةَ لِذَلِكَ، وَصَارَتْ لَهُ هَذِهِ عَادَةً وَخُلُقاً،

“Setiap murid, budak, atau pelayan yang di didik dengan kekerasan dan paksaan, ia akan didominasi perasaan pemaksaaan, jiwanya terasa sempit, motivasinya akan redup, terdorong untuk bermalas-malasan, berdusta, dan bersikap keji karena takut terhadap tekanan. Selain itu, pendidikan seperti ini juga mengajarkan untuk berbuat makar dan menipu, sehingga haltersebut dapat menjadi kebiasaan dan akhlak bawaannya” (Muqoddimah Ibnu Khaldun  1/743)

Siapa yang bertugas mendidik anak?

Sebagian ayah tidak ingin repot merawat anaknya setelah pulang kerja karena merasa lelah. Padahal istrinya yang sepanjang hari merawat anaknya tentunya pasti juga lelah. Sang istri membutuhkan pengertian dan penghargaan suami meski sekecil apapun.

Ada juga yang pulang rumah di sore hari, kemudian makan, lalu memilih pergi dan baru pulang larut malam. Ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya dan meninggalkan istri bersama anak-anak dengan dalih ini memang kebiasaanya sejak sebelum menikah. Ia lupa atau pura-pura lupa bahwa ia sudah memiliki anak. Maka ia haru mengubah cara hidup karena telah memiliki sejumlah tanggung jawab baru dan kehidupan yang berbeda. Ia sudah menjadi bapak dan harus berpartisipasi bersama istri memikul segala tanggung jawab terhadap anak

Untuk itu, meraih anak dari tangannya akan merealisasikan banyak sekali tujuan, di antaranya mengembangkan ikatan antara ayah dan anak, menunjukkan cinta dan perhatian suami terhadap istri, dan penghargaan atas peran yang telah ia jalankan. Lebih dari itu semua, istri akan merasa bahwa suaminya tetap perhatian kepadanya, sama seperti saat mereka belum memiliki anak.

Sebaliknya sang istripun juga tidak boleh lalai terhadap hak suami, dengan hanya memperhatikan anaknya saja, ia juga harus memberikan perhatian kepada suami sebagaimana mestinya seperti menyambut kedatangannya saat ia pulang, mempersiapkan keperluan suami dengan senang hati, dan tidak menjauhkan suami dari anak dengan alasan seperti lelaki tidak mampu merawat anak.

Perselisihan kedua orang tua

Setelah taufiq dan hidayah dari Allah, salah satu faktor terbesar kesuksesan pendidikan karakter seorang anak adalah  peran kerja sama kedua orang tua, oleh karenanya perselisihan kedua orang tua akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap buah hati kita, karena perselishan orang tua akan melemahkan peran dan wewenang mereka berdua serta kerja sama kedua orang tua, selanjutnya anak bisa memanfaatkan keadaan demikian untuk terus menerus berada dalam penyimpangan.

Perselisihan kedua orang tua di hadadapan anak adalah faktor terburuk yang akan berimbas pada kejiwaan anak, lalu memicu keresahan dan guncangan di dalam jiwa buah hatinya. Lebih parah lagi jika orang tua saling menanamkan kebencian terhadap pasangannya di dalam diri anak. Keluarga akan menjadi medan perang dengan dua kubu yang saling bertentangan dan menyerang.

Suasana penuh perselisihan di antara orang tua, apalagi disertai dengan teriakan dan pertengkarang yang berulang-ulang dapat memecah pikiran anak, menimbulkan ketakukan dan keguncangan di dalam diri anak. Sehingga dapat mempersulit dirinya untuk menikmati  segala aktivitas dan merasakan keindahan masa kecilnya.

Semakin sering kejadian seperti ini terulang, semakin beresiko sang anak terkena goncangan-goncangan jiwa, bebannya akan semakin berat karena sensitivitasnya semakin meningkat.

Emosi-emosi yang dihadapi anak di dalam rumah akan berimbas pada perilakunya di sekolah, ia bisa jadi cenderung memusuhi atau mengganggu teman-teman dan gurunya. Dan tidak menutup kemungkinan ia akan berperilaku nakal seperti merusak alat-alat sekolah, berkelahi dengan teman-temannya, hingga dikenal sebagai “anak nakal”. Masalah sang anak pun kian banyak, mulai dari rumah hingga di sekolah, dan tentunya orang tua pun juga pasti akan ikut merasakan limpahan problem dari hal tersebut.

Begitulah. Segala persoalan akan menjadi semaki runyam, situasi keluarga terguncang, dan masing-masing saling mengkambing-hitamkan satu sama lain atas apa yang terjadi.

Ingatlah selalu wahai para orang tua bahwa proyek besar iblis adalah menciptakan percekcokan di antara orang-orang beriman termasuk perselisihan dan perceraian di antara pasangan suami dan istri. Untuk itu, kita harus berupaya keras menghindarkannya, sebab syaithan sebagai musuh abadi manusia dia mengalir pada diri manusia seiring dengan aliran darah. Syaithon dapat merasuki setiap insan ketika sedang marah lalu menimbulkan berbagai macam permasalah dan perselisihan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا فَيَقُوْلُ مَا صَنَعْتَ شَيْئًا قَالَ ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ قَالَ فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ نِعْمَ أَنْتَ

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air (laut) kemudian ia mengutus bala tentaranya. Maka yang paling dekat dengannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datanglah salah seorang dari bala tentaranya dan berkata, “Aku telah melakukan begini dan begitu”. Iblis berkata, “Engkau sama sekali tidak melakukan sesuatupun”. Kemudian datang yang lain lagi dan berkata, “Aku tidak meninggalkannya (orang yang ia goda) hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya. Maka Iblis pun mendekatinya dan berkata, “Sungguh hebat engkau” (H.R Muslim)

Berkata Al-Munaawi:

إِنَّ هَذَا تَهْوِيْلٌ عَظِيْمٌ فِي ذَمِّ التَفْرِيْقِ حَيْثُ كَانَ أَعْظَمَ مَقَاصِدِ اللَعِيْنِ لَمَّا فِيْهِ مِنْ انْقِطَاعِ النَسْلِ وَانْصِرَامِ بَنِي آدَمِ تَوَقَّعَ وُقُوْعَ الِزنَا الذِي هُوَ أَعْظَمُ الكَبَائِرِ فَسَادًا وَأَكْثَرُهَا مَعْرَةً

“Hadits ini menunjukan akan susuatu yang sangat menakutkan tentang pencelaan terhadap perceraian. Hal ini merupakan tujuan terbesar Iblis yang terlaknat karena perceraian mengakibatkan terputusnya keturunan. Dan bersendiriannya anak keturunan Nabi Adam (tanpa istri atau tanpa suami) akan menjerumuskan mereka ke perbuatan zina yang termasuk dosa-dosa besar yang paling besar menimbulkan kerusakan dan yang paling menyulitkan” (Faidhul Qodiir 2/408)

Untuk itu, kedua orang tua harus menjauhi  dan menghindarkan berbagai macam perselisihan dengan sungguh-sungguh khususnya di hadapan anak-anaknya. Toleran dan saling memahami antara keduanya agar syaithan tidak menemukan jalan untuk merasukinya. Menunda pembicaraan tersebut hingga anak-anak tidak berada di rumah. Kedua belah pihak pun saat itu lebih substantif dan tenang dari sebelumnya. dan Suami istri harus menutup jalur-jalur masuk syaithan, banyak berdzikir dan memohon perlindungan kepada Allah dari syaihtan, baik dari permasalahan kecil maupun besar dan diantara dzikir yand diajarkan Rasulullah ketika seseorang sedang marah seperti hadits berikut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika sedang melihat ada seorang sahabat yang sedang marah :

إِنِي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجيمِ، ذَهَبَ عَنْهُ ما يَجِدُ

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim (Aku berilindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk), marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berta’awudzlah ketika Anda marah dengan membaca “A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim” dan ingatlah selalu bahwasanya tidak ada rumah tangga di dunia ini yang tidak memiliki problem.

Semoga Allah senantiasa menjaga seluruh keluarga muslim dan menganugrahkan kelemah-lembutan serta limpahan kasih sayang di setiap rumah tangga kaum muslimin.

Wallahu ta’alaa a’lam bishshowab.

Disarikan dari :

Manhaj At-Tarbiyah An-Nabawiyah lith Thifl – DR. Muhammad Hafizh Suwaid.

Kaifa Turabbi Abnaaaka Fii Haadzaa Zaman – DR. Hassan Syamsi Baasya.

Az-Zauj wa Az-Zaujah , Maa Lahuma wa Maa ‘alaihima minal Alif ilal Ya’ (edisi terjemahan : Kado Terindah Sang Pengantin) – Abdul Aziz bin Nashir Su’ud Al-Abdillah.

PENULIS : USTADZ SALMAN, LC

Ustadz Abu Salma,Lc – Untaian Hikmah Dari Kisah Nabi Yusuf – Bagian 2

Previous article

You may also like

guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
abdullah

MasyaAllah

More in artikel