artikel

Mengapa Harus Mendidik Anak Sesuai Dengan Tuntunan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

0
Picture of pretty stars and clouds hanging decoration for kids.

 Mengapa harus mendidik anak sesuai  dengan tuntunan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebagai seorang muslim wajib bagi kita untuk selalu mengingat dan menanamkan di dalam diri kita semua bahwasanya agama Islam ini dialah agama yang diridhai Allah ta’ala, tidak ada agama lain selain Islam yang diterima  disi Allah ta’ala, Allah Azza wa jalla berfirman :

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ  . . .١٩

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (Q.S Ali-Imran : 19).

Dan juga firman-Nya :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ٨٥

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S Ali-Imran : 85).

Allah menjadikan Islam sebagai agama yang diridhoi di sisi-Nya serta tidak akan menerima agama selainnya dan termasuk nikmat yang teramat besar pula dari Allah Azza wa Jalla terhadap hamba-hamba-Nya, Allah sempurnakan agama Islam ini bagi hamba-hamba Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا   . . . ٣…

“ . . . pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu . . .” (Q.S Al-Maidah : 3).

Ibnu Katsir berkata di dalam tafsiran ayat ini ; “Ini adalah nikmat Allah terbesar bagi umat ini. Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada agama yang lain dan Nabi lain selain nabi mereka. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Tiada yang halal kecuali apa yang ia halalkan, tiada yang haram kecuali yang ia haramkan dan tiada agama kecuali yang ia syariatkan. Segala sesuatu yang ia kabarkan adalah benar, jujur tiada kedustaan, dan tiada penyelewengan padanya…” (Tafsir ibnu katsir : 1/528)

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنْ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى الَجنَّةِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَلَا عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى النَّارِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

“Tidaklah ada sesuatu pun amalan yang dapat mendekatkan kalian kepada al-jannah (Surga) kecuali telah aku perintahkan kepada kalian dan Tidaklah ada sesuatu pun amalan yang dapat membuat kalian terjerumus ke dalam an-nar (Neraka) kecuali telah kularang kepada kalian.” (H.R Muslim)

Hal demikin juga di disaksikan oleh sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu beliau menyebutkan :

لَقَدْ تَرَكَنَا مَحمَّدٌ وَمَا يَحرِّكُ طَائِرٌ جَنَاحَيْهِ فِي السَّمَاءِ إِلاَّ أَذْكَرَنَا مِنْهُ عِلْمًا

“Rasulullah benar-benar telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak seekor burung pun yang membalikkan kedua sayapnya di langit kecuali beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada kami ilmu darinya.” (H.R Muslim)

Dengan demikian suatu hal yang sudah seharusnya kita sadari Islam adalah agama yang telah sempurna dari segala macam sisi, islam telah memberikan petunjuk baik secara detail atau terperinci maupun secara global atau garis besarnya terkait bagaimana seseorang meraih kebaikan, kebahagian, dan kehormatan serta kemulian dunia terutama di akhirat.

Pentingnya parenting sesuai sunnah Nabi

Dewasa ini banyak para orang tua yang prihatin terhadap perkembangan kepribadian anaknya, terutama ketika kita hidup di zaman kemudahan informatika, di zaman dengan mudah nya seluruh hal dapat diakses dan dilihat oleh orang lain, entah itu hal yang baik maupun hal yang buruk sekalipun, sehingga beberapa anak terpengaruhi dengan berbagai macam hal yang mereka saksikan dan tonton di media-media yang ada, padahal banyak diantara sajian-sajian itu tidaklah pantas untuk mereka konsumsi. Oleh karenanya sudah  sewajarnya jika terjadi pembentukan karakter yang tidak sesuai dengan harapan orang tuanya ataupun timbul beberapa penyimpangan dari seorang anak. Menyaksikan hal demikian beberapa orang tua berusaha mencari jalan keluar dari itu semua dengan mempelajari teori-teori menganai pendidkan anak, namun yang amat disayangkan banyak dari kaum muslimin sendirilah yang tidak begitu memperhatikan mengenai tuntunan Islam dalam mendidik anak, bahkan mereka justru lebih condong mengambil materi-materi metode pendidikan dari barat sebagai pedoman pendidikan buah hati tercintanya, padahal metode pendidikan barat sudah tercermari dengan berbagai perkara yang bertentangan dengan konsep dan tujuan syariat, metode pendidikan barat sendiri sarat dengan ideologi kapitalisme dan sekuler yang seluruh materinya mengarah kepada satu tujuan : menyiapkan seorang anak agar memiliki kemampuan untuk merealisasikan setiap keinginan duniawinya. jikalau kita mau menilik sejarah perkembangan metode pendidikan barat, kita akan melihat lembaran-lembaran hitam dari para peneliti dan pengembang konsepnya, kita sebutkan sepenggal “catatan hitam” orang-orang yang menjadi pilar metode pendidikan barat seperti :

  1. Jean-Jacques Rousseau

Jean adalah orang yang membagi tahap perkembangan manusia ke dalam 5 tahap, metode ini dia sebutkan bukunya yang berjudul Emile, ou L’Education: yang mana teorinya menjadi rujukan utama pendidikan modern saat ini. Namun dibalik teori nya dia adalah orang yang membuang 5 anak nya sendiri, sebelum dia menzinahi anak orang lain.

  • Ivan Petrovich Pavlov

Ivan Pavlov adalah orang yang menemukan Teori Classical Conditioning, teori ini merupakan teori penting dalam perkembangan pendidikan barat modern yang mana uji coba teori ini berdasarkan percobaan nya pada anjing.

  • Johann Heinrich Pestalozzi

Dia adalah seorang penggagas pendidikan barat modern saat ini, memiliki karakter yang tidak suka mengahafal bahkan para ahli menyebutnya sebagai “seorang gagal yang amat berhasil”. Dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak mampu untuk kita sebutkan semuanya satu-persatu.

Orang-orang di atas mereka merupakan sosok –sosok pengagas serta orang-orang yang menjadi pilar-pilar penting perkembangan pendidikan barat, beberapa teorinya disimpulkan dari berbagai percobaan dan observasi yang biasa dilakukan kepada hewan. Akibatnya, setelah mengikuti metode ini, masyarakat kita tidak lagi melahirkan manusia yang memiliki sifat-sifat sebagai seorang manusia seutuhnya. Oleh karenanya wahai para orang tua tanyakan kepada hati nurani Anda rela kah anak Anda di didik mengunakan metode yang dikembangkan dari binatang?, relakah Anda jikalau anak Anda di didik dengan cara pendidikan orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap anaknya sendiri bahkan tega berbuat keji terhadap seorang anak?, relakah Anda menjadikan metode-metode percobaan manusia gagal yang belum pasti terbukti kebenarannya untuk mendidik anak Anda?.

Maka dari itu semua sadarilah wahai para orang tua kita sangat mebutuhkan metode yang memiliki sumber yang pasti tidak ada lagi keraguan di dalamnya dan kita membutuhkan sosok tauladan yang paling ideal yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Metode inilah metode AL-Qur’an dan As-Sunnah, karena Al-Qur’an bersumber dari Rabb semesta Alam dari Allah yang telah menciptakan seluruh alam semesta ini, yang menciptakan kita, menciptakan anak-anak kita, Al-Kholiq (Yang Maha Menciptakan) dialah yang lebih mengetahui terhadap makhluk-makhluknya. Lalu sunnah Nabi dia adalah bagian dari tuntunan yang Allah perintahkan kita untuk mengikutinya dan mengikuti Nabi merupakan konsekuensi menjadi seorang mu’min yang beriman kepada Allah dan mencintai-Nya. sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ  وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ٣١

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Ali-Imran : 31)

Nabi kita Nabi Muhammad Shallahllahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok yang paling ideal untuk kita tiru, ikuti, kagumi, dan kita jadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, karena Allah lah yang langsung memuji beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membimbing kita untuk menirunya. Allah ta’ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا٢١

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (Q.S Al-Ahzab : 21)

Di dalam ayat yang lain Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ٤

“dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S Al-Qolam : 4)

Dan dengan meneladani Akhlak beliau shallallahu ‘alahi wa sallam kita telah meneladani adab-adab dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaiman disebutkan oleh ibunda kita Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mendeskripsikan Akhlak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an” (H.R Muslim)

Lantas mengapa kita harus menuju ke teori-teori lain jika sudah ada pedoman yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) Al-Qur’an dan As-Sunnah di sisi kita

Allah ta’ala berfirman :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ  فِيهِ  هُدًى لِلْمُتَّقِينَ٢

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (Q.S Al-Baqarah : 2)

Dan juga firman-Nya mengenai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى٣ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى٤

(3). dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.(4). ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Q.S An-Najm : 3-4)

Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala menyebutkan mengenai tafsir ayat ini :

(وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى) أي : مَا يَقُوْلُ قَوْلًا عَنْ هَوَى وَغَرَضٍ (إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى) أي : إِنَّمَا يَقُوْلُ مَا أُمِرَ بِهِ ، يُبَلِّغُهُ إِلىَ النَاسِ كَامِلاً موفَّرًا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَلَا نُقْصَانٍ . . .

{ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى } maksudnya beliau tidaklah mengucapkan ucapan (dalam urusan agama) yang bersumber dari hawa nafsu dan kecondongan pribadi, { إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى } maksudnya semata-mata beliau hanya mengatakan apa yang diperintahkan kepada beliau, beliau pun menyampaikannya kepada manusia dengan sempurna, lengkap, tanpa penambahan dan pengurangan (sedikitpun).  (Tafsir Ibnu Katsir : 7/443)

Itulah beberapa alasan mengapa kita harus mendidik anak sesuai dengan petunjuk Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga kita dan keluarga kita senantiasa diberikan taufik dan hidayah dari Allah untuk meniti kehidupan di atas cahaya Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pemahaman para Salafush Shalih.

Wallahu ta’ala a’lam bish showab.

PENULIS : Salman,Lc

Ustadz Abdul Qodir – Surah Al Haqqah – Juz 29

Previous article

Hukum Mengubah Nama

Next article

You may also like

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

More in artikel