artikel

NIKMAT ALLAH BERUPA ANAK KETURUNAN

0
Top view of kids playing with sand and dirt and plastic toys.

Nikmat Allah Berupa Anak Keturuan

Diantara salah satu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat diberikan anak dan keturunan Allah ta’ala berfirman :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ

“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik.” (An Nahl: 72)

Bahkan di dalam ayat yang lain Allah menyebutkan anak keturunan kita adalah perhiasan dunia ini sebagaimana firman-Nya :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi: 46)

Nikmat ini lah yang sangat disadari oleh para Nabi dan Rasul, Allah ta’ala menghikayatkan beberapa kisah Nabi-Nya didalam Al-Qur’an mengkisahkan munajat mereka kepada Allah memohon diberikan anugrah keturunan Allah ta’ala berfirman menghikayatkan kisah Nabi Zakaria di dalam surat Maryam :

﴿كهيعص١ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا٢ إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا٣ قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا٤ وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا٥ يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ  وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا٦﴾

1. Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad

2. (yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,

3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.

4. ia berkata “Ya Rabbku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Rabbku.

5. dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Rabbku, seorang yang diridhai”.

Di dalam ayat di atas dikabarkan bahwasanya Nabi Zakariya mengkhususkan diri bertadarru’ merendahkan diri dengan khsuyuk kepada Allah hanya untuk memohon mendapatkan keturunan, dia mengadukan kelemahan dirinya, umur yang semakin menua, tubuh yang semakin melemah, dan rambut yang semakin memutih, namun harapan untuk memiliki anak keturunan masih sangat kuat,

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengabarkan kepada kita terkait nikmat dan manfaat anak di didunia ini, diantaranya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Didalam hadist diatas dikhsusuhkan anak yang shalih yang mendoakan orangtuanya dibandikan seluruh karib kerabat kita yang ada yang mana mungkin mereka juga bisa mendoakan kita pada saat kita telah meninggal dunia, sebab anak yang shaleh merupakan hasil jerih payah orang tuanya, dan juga orang tua lah yang bertanggung jawab mendidiknya hingga menjadi sesorang yang shaleh lalu dia terus mendoakan orang tuanya, kemudian jikalau kita mau merenungkan berapa lama lah kerabat kita, sahabat kita, teman kita, tetangga kita mampu mendoakan kita sepeninggal wafat kita nanti, mungkin di awal-awal wafatnya kita saja atau hanya sekedar saat mensholati jenazah kita atau mungkin hanya sekedar sampai jasad kita telah dikebumikan saja, lalu setelah seluruh kerabat meninggalkan pemakaman kita, merekapun kembali kepada kehidupannya masing-masing, mulai sedikit demi sedikit kenagan kita dari hati mereka kian terlupakan, seluruh nostalgia canda-gurau, susah, sedih, senang bersama, semua akan semakin sirna dengan kian berlalunya waktu, namun seorang anak yang shalih, hasil jerih payah orang tuanya insyaAllah dia akan selalu memberikan manafaat kepada orang tuanya baik ketika orang tuanya masih hidup terutama ketika saat telah meninggal dunia dengan doa dan permohonan ampunan untuk orang tuanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengabarkan mengenai sebuah peristiwa yang akan terjadi pada hari kebangkitan nanti, bahwasanya nanti akan ada orang-orang yang tidak memiliki kedudukan yang amat tinggi di surga kelak atau bahkan mungkin memiliki banyak kesalahan namun derajatnya diangkat oleh Allah ta’ala disebabkan permohonan ampunan dari Anak nya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ، فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ، أَيُّ شَيْئٍ هَذِهِ؟ فَيَقُوْلُ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ.

“Seseorang diangkat derajatnya setelah dia meninggal dunia. Dia bertanya, ‘wahai Rabbku, apa ini?’ dikatakan kepadanya, ‘Anakmu memohonkan ampunan untukmu.”  (H.R Imam Al-Bukhari di dalam kitab Al-Adabul Mufrad)

Alangkah bersarnya nikmat Allah berupa memiliki anak yang shaleh oleh karenanya merupakan sebuah hal yang sangat wajar sekali seorang muslim mendamba-dambakannya serta bercita-cita untuk memiliki anak dan keturunan yang shaleh

PENULIS : Salman.Lc

Waktu Mustajab Yang Sering Dilalaikan

Previous article

Anak Merupakan Nikmat dan Amanah

Next article

You may also like

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

More in artikel